Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Kumpulan Cerita

Kelas Kutukan


Latar : Disebuah kelas yang tidak tertata rapi bengkunya, diatasnya benyak kertas berserakan juga lantainya yang kotor. Selain itu, banyak orang yang menyebut kelas kutukan karena penghuni kelas yang sangat susah diatur juga fenomena sebuah bangku kosong . Bu Laras seorang guru baru yang tidak tahu menahu mengenai fenomena tersebut langsung menyentuh bangku yang tak berpenghuni itu, dan berikut kisahnya.
(Bel masuk berbunyi ) teeet....tet....tet........

Khaina, Erien : (Memasuki kelas bersamaan ngobrol sesukanya)
Khaina : “ya ampun, pagi-pagi harus ke kandang bebek, menjijikkan
Erien : “Heh , kamu salah ini tuh lebih tepatnya rumah angker yang ditinggalin pemiliknya pada masa kolonial Belanda, lihat aja tuh plafonya banyak lendir hijau (menunjuk kearah plafon)”
Aray : (masuk kelas sambil makan snack) “ dasar cewek pagi-pagi ngrumpi kayak ibu-ibu aja “ (duduk ditempatnya)
Khaina, Erien : “Biarin, sirik aja weekk.. (menjulurkan lidah bersamaan)
Bu Laras : (memasuki kelas dan berdiri didepan kelas)
“ Selamat pagi semua, how are you today “
Khaina, Erien, Aray : I’am Fine
Bu Laras : “ Thank you, Perkenalkan nama saya Diva Larasati Hermansyah
Akan menggantikan Bu. Lusi sebagai guru matematika kalian.
Baik , sebelum pelajaran kita mulai saya ingin tahu nama kalian satu persatu. (menyentuh pundak Erien ). Ayo kamu berdiri dan perkenalkan namamu lalu pelajaran kesukaanmu, ayo come on girl “ (Erien berdiri )
Erien : “ Nama saya erien Novella, pelajaran yang saya sukai seni suara “
( lalu duduk kembali )
Floriana : ( Masuk tanpa salam melewati Bu Laras )
Bu Laras : “he...heh kamu ! main nylonong aja, sudah datang terlambat, masuk tanpa salam, udah cepetan berdiri didepan dulu, dan perkenalkan namamu juga pelajaran yang kamu sukai “
Floriana : (memandang acuh ) nama saya Floriana Resvaldya, pelajaran yang saya sukai KARATE “ (pergi ketempat duduknya””
Bu Laras : Dapat disimpulkan bahwa disini tidak ada yang suka dengan pelajaran semuanya lebih suka dengan kegiatan ekstra. Baik untuk menyingkat waktu. Kita lanjut ke kamu (menunjuk ke Aray)
Aray : (berdiri) Nama saya Adam Basara aksara, saya lebih suka nge band atau futsal “ (duduk kembali)
Khaina : (Berdiri tanpa ditunjuk) “ Nama saya Khaina, saya sangat suka lagu Peterpan “
Semua siswa : Huuu............................Caper, nggak nyambung kaleeee...!!
Bu Laras : Baik saya hargai partisipasi kalian. Sudah mau memberi tahu nama dan pelajaran yang disukai meskipun rada ngawur !
Oh ya semuanya sudah datang belum ? kok disitu masih ada bangku kosong..
Khaina : (menyela) Itu bangku Heina Bu !
Bu Laras : Siapa dia. Kenapa tidak masuk ?
Aray : “ Jelas saja nggak masuk lah Bu, paling – paling masuk ibu juga nggak akan pernah lihat wujudnya “
Bu Laras : (Bingung) “Maksudnya nggak bisa lihat dia ?
Erien : “Dia itu mantan siswa sini, dulu dia duduk disitu, karena waktu itu plafon diatas itu jatuh dan menimpanya akhirnya dia meninggal ditempat itu juga dan mayatnya nggak pernah ditemukan “
Bu Laras : “ Untuk masalah Heina, kita tinggalkan sejenak, sekarang kita akan memulai pelajaran, yang pertama kita akan mempelajari perhitungan dasar (menulis dipapan)
1. 5x6x7x125+65:3+73 = ....
2. 94+206:43x72-63 =..............
3. 523-69x720:9x53 =..........
Cukup tiga saja kita lihat apa kalian mampu mengerjakan tiga soal ini dalam waktu yang sesingkat mungkin “
Semua siswa : (Mencatat soal dibuku masing – masing )
Bu Laras : (Mengelilingi bangku – bangku murid pelan – pelan tanpa di sengaja dia menyentuh bangku kosong itu)
Tiba – tiba bangku itu bergerak sendiri, dan menimbulkan suara gaduh dikelas.
Bu Laras : (Terengah – engah) Kenapa bangkunya bergerak sendiri ?
Semua siswa : (menengok kebelakang, melihat guru mereka yang terkejut ketakutan )
Erien : Ada apa Bu ?
Bu Laras : “Nggak mungkin Cuma halusinasi saja”
( pergi ketempat duduknya dan menepiskan peluhnya dengan tissu )
Heina : (masuk dan duduk dibangku kosong)
Bu Laras : (Memandangi kelas, saat pandangannya tertuju dibangku kosong dia terkejut seolah – olah telah melihat seorang anak gadis mendudukinya)
“Astaghfirullahadziem” (ketakutan)
Saat itu pun tiba – tiba pintu terbuka dan tertutup sendiri entah karena angin atau apa semuanya tidak tahu.
Flo : (mengusap – usap lehernya. Seperti ada sesuatu yang membuatnya kurang nyaman) “ Ray, kamu cium bau bunga tidak “
Aray : Kau ini aneh, memangnya disekitar sini ada bunga apa! yang ada tuh Cuma pohon mangga (bergurau)
khaina : “ Bu, kenapa setiap bilangan yang dikurangkan harus berawalan angka enam padahal kan soal itu lebih gampang jika pengurangnya hanya 3 atau Sembilan saja .”
Erien : “ memang kamunya yang otaknya lemot. Bukan soalnya yang enggak beres, ( sok bermartabat ). Apa bolehkah saya mengerjakan soal no 1.
Bu laras : ( tersenyum ) tentu saja !
Erien : ( melangkah ke papan tulis dengan gaya penuh bangga mengambil spidol dan menulis )
Flo : ( maju kedepan )
Bu laras : “ kamu mau ikut mengerjakan Flo ?”
Flo : ( tetap melangkah kedepan )
Bu laras : ( mendekati Flo dan menyentuh pundaknya )
Flo : ( tetap berjalan dan menangkis tangan Bu Laras dari pundaknya )
“ pergi dariku, ………….”
Semua murid kecuali Erien menandang kearah Flo.
Flo : ( mendorong Erien hingga terjatuh )
Erien : Apa – apan sih Flo, memang aku salah apa ? ( berdiri dan mendorong Flo balik )
Flo : “ kau penyebab kematianku “ (mencekik Erien)
Bu Laras : Sudah...sudah cepat kalian duduk (melerai dan melepaskan tangan Flo dari leher Erien)
Flo : (Melepaskan salah satu tangannya dan mendorong Bu Laras)
Aray : “Bu, Flo dirasuki Heina (lari kedepan dan ikut mencoba melepaskan tangan Flo dari leher Erien)
Erien : (Memegang lehernya) Bukan aku penyebab kematianmu Heina
Flo : “Tutup mulut kotormu itu” (mencekik leher Erien sekuat – kuatnya)
Erien : (melemas dan susah bernafas ia pun menghembuskan nafas terakhir)
Flo : (Melepaskan cengkramanya dari leher Erien)
Khaina : “ Apa yang telah kau lakukan Flo ? kau membunuh Erien
Flo : tidak....aku tidak (duduk bersimpuh dilantai dan berteriak)
Acch..... (menangis)
Khaina : “Heina pasti mengincar kita semua, dia pikir kita semua yang menyebabkan..... (menoleh ke bangku kosong itu)
Heina : (duduk dibangku dan tersenyum)
Bu Laras : (Menutup mata Erien)
Khaina : “Heina ! sedang apa kau disini ? kenapa kau masih ...
Heina : (mendekati khaina dan terus melototkan matanya)
Khaina : ( Berjalan kebelakang )
Heina : (Menyentuh pipi Khaina, mengelus-elusnya lalu menamparnya keras-keras)
“Munafik....”
Khaina : “Maaf jika aku selama ini bersalah padamu Heina, tapi sungguh aku tak bermaksud menyakitimu “ (ketakutan)
Heina : “terlambat” (mencabik-cabik Khaina dengan kukunya)
Khaina : “sakit.... hentikan..ampun...Heina ampun...
(tergeletak dibawah tanpa nyawa)
Arai : (Berlari tapi seperti sedang lari ditempat karena dibawahnya banyak sampah ia pun terpeleset sampah itu dan kepalanya membentur lantai)
Bu Laras : (Berlari dan merangkul Flo yang bersimpuh dibawah)
“ayo flo cepat kita keluar dari sini”
Flo : (berubah menjadi diam dan linglung sepertinya batinnya sakit karena harus menyaksikan tragedi berdarah itu)
Bu Laras : “ Sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya, sehingga tragedi ini terjadi ?”
Flo : ( berbalik ) heina kenapa kau tidak membunuhku juga aku tahu kita semua bersalah padamu, tapi haruskah kau menggantungkan nyawa kami, seperti kami mengantungkan rok – mu di tiang bendera saat lalu (tersedu – sedu)
Bu Laras : (Menggigit bibirnya dan meremas tangannya)
Heina : “Selamanya kau tak akan pernah merasakan apa yang ku rasakan”
Tapi sekarang aku akan melakukan itu padamu.
(menyentuh jari Flo dengan jari telunjuknya)
Bu Laras : (Menggandeng Flo keluar)
Flo : (Bergaya ala orang gila)
Heina : Tertawa (hi...hi...hiii)
Semua kejadian berawal dari hari itu dan berakhir dihari itu pula. Sejak saat itu kelas tak pernah digunakan bahkan untuk melewatinya saja orang sudah cukup enggan. Flo menjadi gila. Setiap hari ia hanya berteriak mohon ampun pada Heina. Sedangkan Bu Laras entah kemana siapapun tak tahu menahu dimana keberadaannya.